Dialog Cinta dalam Mimpi

Hipwee.com


Sudah sembilan hari sejak kematian Dimas, selama itu pula Yuca mengurung diri dalam kamar kecilnya. Selama itu pula toko kembang miliknya tutup. Selama itu pula para langganan tokonya kecewa karena harus pulang dengan tanpa hampa. Dan, selama itu pula mamanya gagal membujuknya keluar dari kamar.
Dimas adalah segalanya bagi Yuca. Pun setelah dia tiada. Lelaki lembut yang berencana akan mempersuntingnya beberapa hari lagi itu terenggut nyawanya dalam kecelakaan yang tak diduga. Sebuah kecelakaan tunggal telah memisahkan hidupnya dengan lelaki itu. Dimas Anggara, nama itu masih belum hilang dari hatinya. Senyuman lelaki itu masih membayangi pikirannya. Dan, setiap kali mengingat wajah lembut itu, air mata Yuca kembali berderai, mengucur deras di pipinya, membasahi sarung bantal merah mudanya. Isak tangisnya terdengar pilu. Yuca, gadis berambut sebahu itu belum bisa melupakan kekasihnya. Sebuah penderitaan yang begitu dalam, yang mungkin belum pernah dirasakan oleh manusia manapun di dunia.
***
Malam itu, Yuca tertidur setelah lelah menangis seharian. Dalam balutan selimut merah muda bermotif kembang-kembang, tubuh Yuca tampak terbaring lemah. Seharian dia belum memasukkan apapun ke dalam mulutnya. Mamanya sangat mengkhawatirkan kesehatan anak semata wayangnya itu. Namun, perempuan tua itu tak mampu berbuat apa-apa. Kadang, dia hanya duduk di samping ranjang sambil menatap wajah putri kesayangannya itu.
Di tengah tidur lelapnya, Yuca bermimpi. Tiba-tiba dia sudah berada dalam sebuah taman yang sangat asri dinaungi langit biru tanpa awan. Namun, dia tidak sendirian. Ada Dimas di sana. Lelaki itu menemuinya dengan baju putih seperti sosok malaikat. Pertemuan itu seperti nyata. Bahkan, dia tidak menyadari bahwa itu hanya mimpi belaka. Yuca menghambur mencoba memeluk Dimas. Yuca sangat bahagia. Dimas pun demikian. Lelaki itu juga terlihat bahagia.
Namun sayang sekali, pertemuan itu tanpa dihiasi kata-kata. Mereka hanya memeluk satu sama lain, seperti tak mau terlepas lagi, bagaikan telah berpisah ribuan tahun lamanya. Hanya ada sepatah kata Dimas yang kemudian mengakhiri mimpi indah Yuca: “Temui aku di setiap mimpimu”. Seketika Dimas pun lenyap secara perlahan bersamaan dengan cahaya putih menyilaukan.
Yuca pun terbangun. Peluhnya berhamburan di wajahnya. Dilihatnya jam dinding perak di meja riasnya menunjuk ke angka satu lewat dua puluh menit. Dia bangun dan duduk di tepian ranjang. Korden jendela kamarnya masih terbuka. Terlihat beberapa kendaraan masih melintas di jalanan depan rumah. Yuca mencoba berdiri. Badannya sempoyongan.
Seharian dia belum mandi. Dia ingin menyegarkan tubuhnya. Tak peduli meski dini hari. Ada pemanas air di kamar mandinya. Sambil merendam seluruh badannya, ingatannya kembali pada isi mimpinya tadi. Pertemuan lewat mimpi itu kelewat nyata. Mata Dimas yang teduh menumbuhkan kerinduan padanya.
Bagaimana aku bisa selalu bertemu denganmu, Dimas? Yuca bertanya dalam hatinya. Dia ingat pesan Dimas dalam mimpinya. Ya, Dimas mengatakan kepadanya, “Temui aku di setiap mimpimu.” Yuca masih mengingat ucapan Dimas. Dia pun segera membersihkan tubuhnya dan membalutnya dengan kemeja handuk berbahan wol lembut berwarna merah jambu. Yuca berlarian kecil dan melompat ke ranjangnya. Dia ingin tidur kembali. Dia ingin bermimpi lagi. Dia ingin bertemu dengan Dimas, kekasih hatinya.
***
“Hey, engkau kembali lagi,” Dimas menyapa Yuca di pinggiran danau yang jernih airnya.

Yuca sangat gembira karena ucapan Dimas betul adanya. Mereka dapat bertemu kembali melalui mimpi.

“Dimas, aku sungguh rindu sekali padamu. Mengapa kamu tega meninggalkanku secepat ini?” Yuca memeluk manja kekasihnya itu.

“Mungkin sudah menjadi takdir kita berdua, sayang,” ucapnya lembut. Ditatapnya wajah Yuca sambil mengelus rambutnya yang hitam.

“Aku tak mungkin bisa melanjutkan hidup tanpa dirimu,” ujar Yuca sambil memeluk pinggang Dimas.

“Tidak, Yuca. Hidupmu harus berjalan kembali. Toko bungamu harus segera kamu buka. Kasihan para pelanggan setiamu. Kasihan Mama, dia pasti bersedih jika kamu terus begini,” jawabnya pelan meneduhkan.

“Tidak bisa, Dimas. Aku tak akan sanggup bangkit lagi. Aku ingin bersamamu selamanya. Aku ingin terus bermimpi supaya aku bisa selalu menemuimu,” sahut Yuca.

Dimas pun tak sanggup berkata-kata lagi. Didekapnya tubuh Yuca dengan lembut. Dikecupnya kening Yuca.

“Kamu tak bisa terus begini. Aku akan sedih. Kamu harus bangkit. Jangan kuatir, aku selalu ada di sampingmu. Jika kamu rindu, temui aku kembali di setiap mimpimu,” Dimas melepas pelukannya. Setelah itu dia menghilang tanpa bekas.

“Dimas? Dimas.....!” teriak Yuca histeris.
Seketika badan Yuca tersentak dan terbangun dari tidurnya. Mama sudah berada di sisinya dan mencoba memeluk putrinya itu, mencoba menenangkannya. Yuca menangis histeris. Badannya mendadak demam.

“Yuca, tenang sayang, Mama ada di sampingmu,” perempuan tua itu memeluknya.

Dielusnya rambut Yuca. Anak itu menangis tersedu-sedu dipelukan sang bundanya.

“Kamu harus ikhlaskan, Dimas,” ucapnya lirih.

Namun, Yuca tak mampu menghentikan tangisnya.

“Aku nggak bisa Ma, aku nggak bisa…,” ucapnya tersedu-sedu.

Semenjak malam itu, Yuca tak berhenti menangis. Hanya menangis yang bisa dia lakukan. Tubuhnya semakin kurus karena kurangnya asupan makanan. Mama sudah memanggil dokter untuk memeriksanya. Dokter pun telah memberikannya obat. Namun, Yuca tak menyentuhnya.
***
Seperti biasa, malam kembali datang. Saat-saat itu yang selalu ditunggu oleh Yuca. Supaya dia bisa segera tertidur dan bermimpi bertemu Dimas. Namun sayang seribu kali sayang, kali ini dia tak menemukan Dimas dalam mimpinya. Danau berair jernih itu sepi. Tak ada siapa pun di sana, kecuali dirinya sendiri.

“Dimas, kamu di mana?” Yuca mencari-cari sosok kekasihnya itu kemana-mana.

Namun, dia tetap tak menemukan Dimas. Dia kecewa sekali. Dia tak berhasil bertemu dengan sang kekasih malam itu.
Pun dengan malam-malam berikutnya. Dimas juga tak muncul dalam mimpinya. Meskipun di suatu malam Yuca membawakan kembang kesukaan Dimas, Rose merah, tetapi Dimas tetap tidak muncul. Yuca kecewa berat. Dia merasa Dimas telah membohonginya.
Yuca memutuskan untuk bangun dari tidurnya. Rembulan dari jendela kamarnya kelihatan pucat warnanya. Malam di bulan Juli ini sangat dingin sekali. Yuca duduk termangu di tepian ranjangnya. Galau memikirkan kata-kata Dimas yang tak sepenuhnya benar. Dimas, kau kemana?
***
Toko kembang “Bidadari Kecil” itu kembali buka setelah sebulan tutup. Kesibukan di toko kecil itu terlihat cukup lumayan. Dua orang pegawai terlihat menata bunga-bunga segar yang baru saja tiba. Sebuah truk kecil terlihat parkir di samping toko. Seseorang tampak menurunkan bunga-bunga segar dari bak truk.
Yuca sendiri sedang sibuk di belakang meja sambil mengawasi pegawainya menata bunga-bunga dagangannya. Dia memeriksa satu-persatu daftar pesanan bunga-bunga segar dari beberapa suplier. Dan, baru satu suplier yang sudah tiba pagi ini. Kali ini dia mencoba suplier baru atas saran koleganya.

“Hey, semua sudah beres, Nona. Ini tanda terimanya. Silakan kamu periksa,” tiba-tiba suara seorang pria mengagetkannya.

Yuca sedikit kaget dibuatnya. Dipandanginya sosok lelaki di hadapannya itu. Sosok lelaki tampan dengan gaya rambut di-kuncrit. Kumis dan jambangnya lumayan lebat. Sedikit cuek.
Seketika catatan dan pulpen di tangannya terlepas. Bibirnya menggigit jemari kanannya. Matanya melotot seperti tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Suara kagetnya membuatnya dia mundur sesaat dari meja di depannya, yang menghalanginya dengan lelaki itu. Wajah lelaki itu nyaris mirip dengan mendiang kekasihnya, Dimas.

          “Eh, maaf, aku buat kamu kaget. Sekali lagi, I’m sorry,” tukas lelaki itu salah tingkah.

           Tangannya menggaruk-garuk lengannya.

         “Aku hanya menyampaikan ini saja,” lanjutnya sambil menyodorkan tagihan. “Untuk kelengkapan dan kondisi barang silakan diperiksa. Aku masih bisa menunggu kok.”

Yuca masih belum sembuh dari rasa terkejutnya. Diraihnya kertas tagihan dari lelaki itu. Dilihatnya kertas berisi jenis bunga segar yang dia sudah pesan sebelumnya itu. Di sana juga tertera angka rupiah tagihan yang harus dia bayar. Yuca memandangi sekali lagi lelaki yang masih berdiri di hadapannya.

“Oh, ok…ok. Sorry, aku sedikit kaget tadi karena kamu sangat tiba-tiba….,”jawabnya terbata-bata.

Lelaki itu dilihatnya tersenyum merekah dan kembali meminta maaf. Namun Yuca masih belum menguasai dirinya. Dia seperti tidak percaya dengan pemandangan di hadapannya. Lelaki itu malah justru menjadi kebingungan.

“Eh, maaf…maafkan saya Nona. Ada yang salah dengan saya?”tanyanya kepada Yuca yang masih tertegun memandangi dirinya.

Yuca pun segera tersadar.

“Oh, tidak. Maafkan aku. Ok, sesuai perjanjian kita, tagihan akan aku selesaikan paling lambat tiga hari setelah di-drop. Bukan begitu?” Yuca meminta persetujuan. “Kalau boleh, aku diberi nomor yang bisa kuhubungi karena kemarin aku pesan lewat email,” lanjutnya sambil malu-malu.

“Ya, sesuai perjanjianmu dengan paman. Aku hanya mengantar barang-barangnya. Kamu telepon dia saja. Nomornya ada di kertas tadi. Ok, aku boleh pergi, kan?” pintanya sambil tersenyum.

“Hmm, baiklah. Nanti aku akan telepon pamanmu. Aku boleh meminta nomormu?” pinta Yuca malu-malu.

Lelaki itu tidak keberatan. Dia memberikan kartu namanya.

“Dimas?!” seru Yuca hampir berteriak. Lelaki itu kaget dengan teriakannya.

“Ada apa Nona?” tanyanya keheranan. “Iya, namaku Dimas Yuca Prasodjo. Prasodjo adalah nama papa-ku. Panggil saja aku Dimas. Ada yang aneh?”

Yuca menggeleng pelan. Dia malu bukan main. Dia terkejut karena nama lelaki itu hampir mirip dengan kekasihnya, Dimas Anggara. Tapi ada yang lebih menarik lagi. Namanya juga ada di dalam namanya, Yuca. Ini sungguh kebetulan yang tidak bisa dia bayangkan.

“Hmm, boleh tahu namamu?” tanya Dimas sopan sambil mengambil sekuntum Rose Merah di dekatnya.

Yuca tak menjawab permintaan lelaki itu.

“Baiklah, aku bisa bertanya pada paman,” sahutnya sambil tertawa. “Ok, Nona. Sampai jumpa.”

Lelaki misterius itu pun melambaikan tangan dan meninggalkannya setelah meletakkan kembali bunga Rose Merah segar ke tempatnya semula. Yuca mengikuti langkah lelaki itu dengan pandangannya hingga sosok misterius itu hilang dari balik pintu.

***

Malam cukup larut. Yuca tidak bisa tidur. Pikirannya masih dipenuhi banyak tanda tanya tentang pertemuannya dengan lelaki misterius pagi tadi. Wajah dan nama lelaki itu nyaris mirip dengan mendiang kekasihnya. Apakah ini sebuah kebetulan yang dikirimkan Tuhan? Yuca masih memikirkannya hingga suara telepon genggamnya berbunyi. Dimas Yuca, nama itu muncul dalam panggilan handphone-nya. Jantungnya berdegup kencang. Segera diterimanya panggilan itu. Terdengar suara menyapa di seberang sana.

“Malam, Nona Yuca. Masih ingat aku, kan? Ya, nomor dan namamu ada di pesan email yang kamu kirim ke toko paman. Maaf, kalau aku sedikit lancang,” sapanya pelan.

“Ada apa, Dimas? Mengapa kamu meneleponku malam-malam begini,” jawabnya hati-hati.

Pipinya memerah, meski Dimas tidak melihatnya di seberang.

“Aku cuma memastikan nomor ini benar kamu, Yuca, eh Nona Yuca. Maaf, aku tidak sabaran menunggu sampai besok untuk memastikannya.”

“Ini sudah larut, Dimas. Katakan cepat, ada perlu apa?”tanya Yuca penasaran.

“Boleh aku mengunjungimu besok?” tanyanya terkekeh.

Yuca merasa ada “sesuatu” dalam permintaannya itu.  

“Yup. Silakan saja, Dimas. Tapi jangan marah kalau kucuekin ya? Kamu tahu kan, aku sedang bekerja. Kecuali kamu mau menunggu setelah jam enam sore,” jawab Yuca seperti pukulan tinju yang telak mengenai pelipis lelaki itu.

Suara tawa riang terdengar di seberang sana. Lelaki itu tahu, Yuca tidak bisa dia permainkan.

“Ok, Yuca. Aku tak bermaksud mengganggumu. Aku ingin berkenalan lebih jauh denganmu. Aku akan datang selepas kerja,” jawab Dimas sambil memohon Yuca tidak akan membatalkan pertemuan mereka besok.
Selanjutnya, perbincangan mereka pun terhenti. Yuca masih memandangi layar handphone-nya. Entah kenapa, hatinya kali ini sumringah. Yuca pun tersenyum sendiri. Yuca pun segera membungkus tubuhnya dengan selimut. Dia ingin segera tertidur dan terbangun keesokan paginya. Dia tak yakin apakah dia benar-benar berharap ingin segera bertemu dengan Dimas.

***

Jam dinding di toko menunjukkan angka enam lewat lima belas menit. Yuca masih mengerjakan sesuatu di mejanya, mencatat hasil penjualan bunga segar hari itu yang lumayan bagus. Para pegawainya satu per satu pamit pulang meninggalkannya seorang diri.

“Berapa harga sekuntum Rose Merah ini, Nona?”tiba-tiba Dimas Yuca sudah berada dihadapannya sambil memberikan mawar merah itu kepada Yuca.

Meski sedikit terkejut, tapi dirinya senang dengan kelakuan manis lelaki itu.

“Maaf, aku sedikit terlambat. Sebenarnya tidak terlambat, ehm, sebenarnya…aku menunggu mereka pulang,” kelit Dimas sambil menunjuk para pegawai Yuca yang ada di parkiran toko, bersiap hendak pulang.

“Ah, kamu, bisa saja. Terimakasih bunganya…”Yuca meletakkannya di vas bunga kecil di mejanya. “Bagaimana kamu tahu aku menyukai Rose Merah?”

“Siapa yang tidak akan suka dengan Rose Merah, Yuca? Bunga itu melambangkan keteguhan hati seorang wanita, kurasa. Bukan begitu?” jawab Dimas mantap.

Matanya memandang tajam ke arah Yuca.

“Maksudmu?” Yuca tidak mengerti dengan ucapan Dimas.

Dimas mengambil kursi di depan meja Yuca dan menariknya lebih dekat ke arah Yuca. Kemudian, dia mendudukinya.

“Yuca, kamu sudah berhasil bangkit dari kemalangan yang kamu derita. Sebulan tidak keluar rumah cukup menggambarkan betapa dalam penderitaanmu karena kehilangan seorang kekasih yang dicintainya.”

“Bagaimana kamu tahu?” Yuca penasaran dengan jawaban Dimas, lelaki yang baru saja dikenalnya itu.

Dimas mengambil nafas dalam-dalam.

“Mungkin, kamu tak akan percaya. Tapi dia mengatakan hal itu padaku. Dia mengatakan semuanya dalam mimpiku,” Dimas bercerita.

“Siapa yang kamu maksud? Apa yang dia sudah katakan dalam mimpimu?” Yuca semakin penasaran.

“Dimas telah mengatakan semuanya dalam mimpiku beberapa waktu yang lalu. Aku hampir tak mempercayai itu. Bahkan, aku ragu-ragu untuk menyampaikannya langsung padamu. Aku takut, kamu tak akan percaya dan menuduhku mengambil kesempatan,” ucap Dimas serius.

“Bagaimana bisa dia ada dalam mimpimu? Aku masih belum percaya. Kamu pasti mengada-ada kan, Dimas?” Yuca ragu-ragu menyebut panggilan nama lelaki itu, yang sama dengan  panggilan nama mendiang kekasihnya.

“Begitulah, adanya Yuca. Dan….dia memintaku untuk menjaga…menjagamu,” ucap Dimas terbata-bata. Takut ucapannya menyinggung perasaan Yuca.
Yuca menatap Dimas. Perasaannya waktu itu tak menentu. Antara percaya dan tidak dengan kata-kata Dimas. Yuca beranjak dari kursinya, dan berjalan cepat meninggalkan Dimas seorang diri. Pintu toko dibanting. Yuca berlari menuju rumah di samping tokonya. Rumah mamanya, dimana dia tinggal bersamanya selama ini.

***

Yuca menangis tersedu-sedu di dalam kamarnya. Dia tak percaya dengan kejadian yang baru saja diceritakan Dimas Yuca. Bagaimana mungkin Dimas kekasihnya menceritakan semua kisah mereka kepadanya? Lalu apa maksud Dimas menyuruhnya untuk menjaganya?
Dalam isak tangisnya, Yuca tertidur dan bermimpi. Dalam mimpinya dia bertemu dengan Dimas Anggara, kekasihnya. Tidak seperti penampilan yang biasanya, Dimas kali ini menguncrit rambutnya. Kumis dan jambangnya lumayan lebat. Dalam balutan busana serba putih, Dimas menyambut Yuca dan mendekapnya.

“Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanyanya pada Yuca.

“Kamu jahat! Mengapa kamu tak mau menemuiku lagi dalam setiap mimpiku?”Yuca memprotes.

Dimas hanya tersenyum. “Bukankah, aku sudah kembali padamu, sayang?”

“Maksudmu? Jadi benar, kamu yang meminta dia untuk menjagaku?” tanya Yuca dengan rasa penuh penasaran.

Dimas kembali tersenyum.

“Ya, sayang. Aku tak ingin kamu selalu bersedih karena kepergianku. Dia kuminta untuk menjagaimu. Aku mengirimkan pesan itu melalui mimpinya. Aku ikhlas jika dia yang menjagamu. Meskipun dia orangnya agak cuek, tapi dia mirip denganku kan?”

“Aku belum bisa mencintainya. Cintaku hanya padamu, sayang,” Yuca merengek seperti anak kecil.

“Nggak papa, sayang. Cinta perlu proses dan pembuktian,” jawab Dimas. “Dan, setelah ini sepertinya aku tak akan bisa menemuimu lagi dalam setiap mimpi-mimpimu. Ikhlaskan kepergianku, sayang. Semoga kamu bahagia bersamanya”

Dan, tiba-tiba tubuh Dimas pun melayang secara perlahan ke angkasa. Yuca berdiri mematung sendirian seraya menyaksikan kekasihnya itu menghilang di balik mega.

“Dimaaaassssssssssss………..!!!!” jerit Yuca.

Seketika dirinya terbangun. Peluhnya membasahi dahi dan pelipisnya. Dilihatnya Mama sudah ada di samping tempat tidurnya. Sementara Dimas Yuca berdiri dekat pintu tak jauh dari ibu-anak itu berada. Dimas Yuca pun mendekat, mencoba menenangkan Yuca.

“Dimas…,” Yuca menghambur memeluk Dimas Yuca.

Dimas pun menyambutnya setelah melihat Mama Yuca memberi tanda setuju padanya.

“Berjanjilah untuk menjaga diriku, Dimas!” pintanya sambil menangis tersedu-sedu. “Berjanjilah padaku dan Mama!”

Dimas Yuca hanya terdiam dalam dekapan mereka berdua. Tangannya mencoba mengelus rambut Yuca. Mama pun tersenyum bahagia. 

Sementara itu langit di luar tampak bersih dipenuhi bintang-bintang. Salah satu bintang terbesar di sana terlihat memancarkan sinar terangnya, seterang perasaan Yuca malam itu.




Polewali, 27 Februari 2019