Kisah Aya dan Padri

yudhistiraarie.deviantart.com


Aya gusar dengan sikap Padri yang menghapus kontaknya di BB Padri. Dia baru menyadari hal itu setelah sebulan lebih tak menerima bbm dari Padri. Apa maksud Padri berbuat demikian? Pun ketika dia menghubunginya, tak diangkatnya. Sms pun juga tak dibalasnya. Berbagai prasangka pun bermunculan. Hingga pada suatu hari Padri mengirimkan sms balasan kepada dirinya.

"Aku tak bisa lagi meneruskan persahabatan ini." bunyi sms Padri. Aya pun kaget.

Aya pun membalas, "Mengapa begitu?"

"Aku berusaha belajar melupakanmu. Satu hal yang tak kamu ajarkan ketika kamu pergi dulu." jawab Padri.

Aya pun makin gusar dan belum menemukan jawaban yang bisa membuatnya puas.

"Bukankah sebuah persahabatan tak harus berakhir seperti halnya hubungan percintaan?" Sanggah Aya.

Padri tak menjawab. Kali ini Aya benar-benar tak mengerti dengan sikap Padri. Perubahan sikap Padri membuatnya sedih sampai detik ini.

Kisah persahabatannya dengan Padri memang tak mudah untuk dilupakan. Berawal dari pertemuan mereka di sebuah cafe kopi. Tanpa disengaja mereka bisa satu meja karena ramainya pengunjung cafe saat itu. Akhirnya mereka pun berkenalan dan ngobrol berdua bagaikan sudah kenal lama. Perkenalan pun berlanjut dengan aktivitas di kampus mereka meskipun berbeda jurusan. Mereka bak sepasang kekasih yang kemana-mana selalu berdua. Padahal belum pernah ada deklarasi di antara mereka berdua. Bagi Aya, Padri adalah sosok sahabat yang selalu mengerti dirinya: keinginannya, pendiriannya, masa lalunya, dan segala hal lainnya tentang dirinya. Padri selalu menyediakan dirinya untuk membantu problem yang dihadapinya. Padri baginya sudah seperti kakaknya sendiri. Padri adalah tempatnya bermanja.

Ketika Aya harus memutuskan pergi usai wisuda, Padri terlihat amat sangat kehilangan. Takdir lah yang membuat mereka berdua harus berpisah. Aya harus kembali ke tanah kelahirannya, sementara Padri tetap bertahan di negeri seribu sungai. Lima tahun mereka berjauhan, namun komunikasi tetap berjalan. Meski tak lagi pernah bertemu muka, namun hati mereka tetap bertautan. Hingga akhirnya sms jawaban itu pun datang. Padri memutuskan jalinan persahabatan mereka. 

Aya terus mengejar Padri. Menuntut alasan Padri menjauhinya. Tak mungkin mereka putus tanpa alasan yang jelas. Dan Aya tak ingin kehilangan Padri. Kali ini Aya harus mengambil keputusan. Dia harus menemui Padri. Pesawat pagi akhirnya membawanya ke kota Padri tinggal. Setiba di bandara, dengan taksi Aya langsung melesat menuju rumah Padri. Berharap kedatangannya menjadi surprise bagi Padri. 

Rumah itu kelihatan sepi. Pintu depannya dibiarkan terbuka. Diketuknya pelan pintu warna hijau itu, namun Padri tidak keluar-keluar.  Diucapkannya salam beberapa kali hingga akhirnya keluarlah seorang lelaki muda dari dalam rumah.

"Mencari siapa?" tanyanya.

"Padri, Padri ada?" Jawab Aya.

"Kamu pasti Aya, bukan? Silakan masuk." Lelaki  itu  mempersilakan duduk. Aya masuk dengan muka penuh tanda tanya. 

"Padrinya sedang pergi kah?" tanya Aya kembali tidak sabar lagi.

"Kamu pasti Aya, ya?"tanya pria tersebut. Aya hanya mengangguk. Wajahnya terlihat heran karena lelaki itu mengetahui namanya.

"Kamu pasti mencari Padri, ya?" Pria itu kembali bertanya, seakan ada sesuatu rahasia yang dia sembunyikan. "Kamu tak akan bisa menemuinya lagi, Aya,"ujar pria itu. Aya pun semakin kebingungan penuh berjuta tanda tanya.

"Memang Padri kemana?"Aya sudah semakin tidak sabar.

Tetapi pria itu tak menjawab. Dia justru masuk ke dalam rumah. Aya pun semakin bingung dengan kelakuan lelaki itu. Tak berapa lama dia muncul kembali dan memberikan sepucuk surat sampul merah muda kepada Aya.

"Bacalah!"pinta lelaki itu. Aya pun langsung menyambut surat itu dan segera membaca isinya.

Aya, sahabatku...Ketika kamu menerima surat ini, kamu pasti tak akan bisa menemuiku lagi...karena aku sudah meninggalkan dunia ini....Terima kasih karena sudah menemuiku meski hanya bisa diwakili oleh sepucuk surat ini...Sengaja aku tak sampaikan padamu, bahwa aku menderita suatu penyakit yang dokter mana pun belum sanggup untuk mengobatinya....Aku sengaja pendam itu supaya kamu tidak perlu terlalu merisaukanku...Sebenarnya ada satu hal yang ingin kusampaikan padamu, namun tak mampu aku ucapkan hingga ajal menjemputku. Sebenarnya aku mencintaimu saat pertama kali kita bertemu dahulu. Aku bertambah mencintaimu ketika hari-hari indah kita isi bersama. Aku pasrah dan tak mampu menahan kepergianmu ketika kamu memutuskan untuk pergi demi masa depanmu. Sebulan setelah kepergianmu, sakitku mulai menjadi. Aku kesakitan, meski engkau tak mengetahuinya. Namun sapaanmu setiap pagi, siang, sore, dan malam menguatkanku. Hanya itu satu-satunya harapanku. Dua bulan terakhir aku sangat sedih. Karena setiap bbm-ku tiada mendapat jawaban dari mu lagi. Aku mengerti kamu semakin sibuk dengan pekerjaanmu. Aku yakin engkau tak akan melupakanku. Namun sakit itu tak dapat kutahan lagi. Ketika kusadar hariku telah dekat, sengaja aku hapus kontakmu di BB-ku. Setidaknya itu bisa membuatmu suatu saat menyadari namaku tak ada lagi di sana. Karena aku sebenarnya sangat membutuhkan support darimu. Sayang, engkau tak kunjung sadar, sementara tubuhku semakin melemah. Akhirnya aku hanya bisa titip pesan kepada temanku untuk menyampaikan 2 kalimat itu lewat sms, seandainya engkau akhirnya menghubungiku. Tetapi itu artinya semua sudah terlambat karena aku pasti sudah tidak ada lagi di dunia ini. Jangan menangis. Aku tak ingin membuatmu merasa bersalah padaku. Akulah yang salah karena tidak memberitahumu. Doaku, semoga kamu bahagia, meski tanpa aku disisimu. Salam rindu. 

Padri.


Isi surat itu pun habis. Seketika air mata Aya meleleh, jatuh dan membasahi kertas surat warna putih itu. Aya memandangi lelaki itu.

"Jadi?!"Aya pun menjerit. "Padri telah tiada?!" Tangisannya berderai. Lelaki di depannya mengangguk lesu.

"Hanya satu pesan dia, surat dan sms itu." Lelaki itu memberikan BB Padri kepada Aya. Aya ingat sekali BB itu pemberian darinya buat ulang tahun Padri yang ke-25. Tangis Aya semakin menjadi mengingat itu. Kenangannya bersama Padri kembali muncul silih berganti. 

Akhirnya, Aya meminta lelaki itu untuk mengantarnya ke makam Padri. Di pusara Padri yang mulai mengering itu, Aya menabur melati, bunga kesukaan Padri dan dirinya, serta menyiraminya dengan sebotol air. Aya memanjatkan doa-doa sambil tak kuasa berlinangan air mata. 

"Padri, aku terima cintamu yang tak pernah kauucapkan itu. Aku tak akan pernah bisa melupakan kenangan kita bersama. Semoga Alloh menakdirkan kita berdua bertemu di surganya. Amin."

Aya berdiri dan berjalan meninggalkan tanah pekuburan. Sementara itu di ufuk barat mentari mulai menenggelamkan dirinya menandai senja mulai bertahta.