Matahari itupun Pergi Untuk Selamanya


streamzon3.web.id



Tak kuasa kubendung air mataku ketika melihat wajahnya yang pucat dan tubuhnya yang kurus. Kupeluk badannya yang ringkih. Kuelus rambutnya yang mulai menipis. Terisak-isak kutahan tangisku. Akhirnya air mataku pun tumpah. Aku tak sanggup menyaksikan penderitaannya. Ya Alloh, kasihanilah bapakku…..

Kukatakan padanya. Bapak harus tetap semangat. Bapak harus sembuh. Dia hanya mengangguk perlahan. Nafasnya tersengal-sengal dibantu selang oksigen. Bapakku bilang padaku bahwa dia percaya akan sembuh. Aku sangat bahagia mendengarnya. Semangat bapak masih ada. Dia katakan padaku sangat senang aku bisa datang menjenguknya.
Kupijit kakinya yang kurus. Kuusap-usap punggungnya yang basah karena kelamaan berebah. Kuceritakan perjalananku hari itu melintasi lautan. Demi menjenguk bapak. Meski aku hanya datang sendiri, bapak bisa mengerti. Beliau menanyakan kabar kami, istriku dan cucu-cucunya. Aku sangat senang bisa bertemu dengan bapak siang itu. Lima jam perjalanan udara dan daratku tak membuatku lelah. Tak seperti biasanya, malam itu bapak terlihat tidur sangat pulas.
Banyak sekali kenanganku bersama bapak. Kenangan masa kecilku masih membekas hingga kini. Bersepeda mengelilingi pabrik gula Jatiroto di waktu malam. Memancing ikan wader di sungai dekat rumah kontrakan kami. Makan sate bersama di kota. Naik becak melewati dua komplek kuburan yang menyeramkan menurut perasaanku waktu itu. Berwisata di pantai Watu Ulo yang terkenal dengan ombaknya yang ganas. Pindahan rumah dengan naik mobil pick up kecil penuh barang. Entah berapa kali kami pindah rumah demi mendampingi bapak pindah kerja dari proyek ke proyek ketika itu. Hingga akhirnya kami pun menetap di kota brem. Di kota itu, aku tumbuh hingga dewasa. Bapak, kenanganku bersamamu itu tidak akan pernah kulupa.
Sosok yang disiplin. Pribadi yang tidak bisa diam. Selalu ada saja yang dia kerjakan. Kadang membuat kami, anak-anaknya, tidak bisa menikmati hari minggu yang semestinya kami gunakan untuk bermain. Baru kusadari ternyata didikan bapak seperti itu sangat berguna buatku sekarang.
Begitulah bapak. Keras sekali orangnya. Tapi kasih sayangnya sungguh besar buat keluarga. Seingatku, sekali saja kupingku dijewernya. Humor dan canda kadang keluar juga dari tuturnya. Segala keperluanku selalu dipenuhinya, terlebih soal pendidikanku. Hingga aku bisa seperti sekarang ini. Bapak, sungguh aku tak akan mampu membalas jasamu.
Bapak, aku tak bisa menceritakan semuanya. Tak akan mampu kutulis semua kenangan bersamamu. Manis dan pahit bersama ibu dan adik-adik. Hingga kami semua tumbuh mendewasa……
Malam itu, aku tak bisa tidur. Aku memikirkan kesembuhan bapak. Mungkinkah dia sembuh? Aku hanya bersimpuh dan berdoa kepada sang Maha Penyembuh. Ya Alloh, kabulkanlah doa kami.
Esok harinya aku pamit. Kukatakan kepadanya permohonan maafku karena tidak bisa menemaninya lama-lama. Aku pun mencium keningnya. Kubisikkan ke telinganya. Lirih. Bapak, semoga lekas sembuh ya pak? Mintalah terus sama Gusti Alloh. Dengan berat hati kutinggalkan bapak. Tak kusangka air mataku telah menetes, membasahi pipiku. Kutoleh sekali lagi bapak. Beliau memandangi kepergianku dengan pilu. Tak kusangka hari itu adalah hari pertemuan terakhir kami.
Aku selalu memantau perkembangan bapak. Harapanku bersinar ketika kudapat kabar bahwa bapak sudah boleh pulang. Kata ibu, nafsu makan bapak sudah membaik. Hanya ibu dan adik bungsuku yang menemani dan merawat bapak di rumah. Sekali-kali ibu memanggil perawat untuk mengganti kateter. Aku bersyukur sekali mendengar perkembangan kesehatan bapak.
Namun kegembiraan itu tak berlangsung lama. Di suatu pagi, ibu meneleponku. Katanya, kesehatan bapak makin menurun. Aku diminta ibu menelepon bapak. Adikku menempelkan HP miliknya di dekat telinga bapak. Agar suaraku bisa didengarnya. Aku sampaikan kepada bapak untuk banyak-banyak berdzikir. Meskipun hanya mampu diucapkan dalam hatinya. Aku pompa semangat bapak meskipun harapan itu kian menipis. Aku menangis tersedu-sedu. Aku tak kuasa menahan tangisku. Kata ibu, ketika kutelpon bapak juga meneteskan air matanya.
Sore itu, adikku mengabarkan padaku kondisi bapak yang semakin kritis. Katanya, sudah dekat mas, sambil terisak-isak. Ketika kabar itu kuterima, aku masih diperjalanan bersama istri dan anak-anak. Seketika kuberhentikan kendaraan dan tangisku pun pecah. Aku merasa dunia berhenti berputar. Waktu pun serasa berhenti. Ingin rasanya aku di samping bapak saat itu. Aku ingin memeluknya untuk terakhir kali. Aku ingin mencium wajah bapak. Sayang itu tak kuasa kulakukan. Menjelang isya, sukma bapak telah pergi meninggalkan raganya. Matahari keluarga itu telah pergi. Meninggalkan dunia yang fana ini. Meninggalkan kami semua. Selamat jalan Bapak. Semoga Alloh memberimu tempat terbaik disisiNya. Kami akan senantiasa mendoakanmu dalam setiap sujud kami. Setiap hari.

Makassar, 2 November 2012.